Remaja Gayamsari IV Kel.Gemah Kec. Pedurungan, berkeliling kampung menabuh drum dan barang bekas, untuk membangunkan orang sahur

dailyvideo

Tarhim

Takjilan

”Ya Arhamar Rahimin, Irhamna”
“Wa afina wa’fu ‘anna wa’ala to’atika wa syukrika a’inna”
DOA yang khas dibaca untuk membangunkan orang agar sahur itu begitu merdu dilafalkan oleh muadzin masjid desa saya. Suara Pak Muslih atau Wak Salim itu, terasa menyayat kalbu. Alunannya panjang dan dengan intonasi baku. Sesuai makhraj huruf dan kaidah tajwid. Tarhim, begitu istilah untuk menyebut pembacaan doa diawali menyebut asma Allah sebagai dzat Yang Mahapengasih (ar-Rahim). Kalimat zikir Ya Arhamar Rahimin yang diulang-ulang itulah yang kemudian disebut sebagai tarhim.
Pak Muslih biasa membacakan tarhim mulai pukul 3.30. Volume loudspeaker masjid tidak terlalu keras disetel. Lirih menyejukkan telinga. Orang-orang yang rumahnya dekat masjid, biasanya langsung bangun lalu sholat Tahajud di masjid. Terutama laki-laki. Sedangkan ibu-ibu, mungkin sholat tahajud di rumah atau meraih pahala besar dengan mempersiapkan makanan sahur untuk suami maupun anakanaknya. Seringkali, bacaan tarhim itu ditambahi sholawat pujipujian kepada Nabi Muhamamd beserta keluarga dan para sahabatnya. Diselingi bacaan doa dari ayat Alquran.Biasanya, begitu tarhim mulai, anak-anak yang berkeliling dengan klothekan segera mengakhiri aktivitasnya. Setidaknya balik kanan dari rute yang telah ditempuhnya. Tarhim adalah tanda bagi mereka untuk pulang ke rumah untuk makan sahur bersama keluarga. Meski dalam perjalanan pulang, musik thong-thong klek tetap dibunyikan. Setiap lima menit, Pak Muslih yang hapal Alquran
menyelingi qiro’ah-nya dengan sapaan krama inggil. ”Sahursahur... ingkang dereng sahur, sumangga enggal sahuur. Sak menika wekdal sampun jam tiga langkung sekawan dasa.” Lalu dia bacakan hadis Rasulullah berulang-ulang dalam bahasa Arab: ”Fasahhiruu, fainna fis sahuri barokah... sahurlah, karena sahur itu membawa berkah.”
Demikian pula jika yang jadi muadzin Wak Salim. Dia senantiasa menyapa dengan lembut. “Ibu-ibu ingkang dereng wungu, sumonggo enggal wungu. Enggala sahur, wekdal subuh sampun caket.” Dia ucapkan pula dalam bahasa Arab: “Fasahhiru... faqod qorubas shobaaah...”
Jika Anda tinggal di kawasan Kauman Semarang atau sebagian masjid lain di pinggiran Semarang, Anda akan mendengar tarhim berupa lantunan sholawat ciptaan
Syaikh Mahmud Al Husairi. Tokoh sufi di masa kekhalifahan Abbasiyah. Bahkan tidak hanya menjelang imsak sholawat indah ini dikumandangkan. Yakni menjelang maghrib untuk mengingatkan agar bersiap berbuka puasa.
Tak masalah yang Anda dengar adalah bunyi dari tape recorder yang memutar kaset rekaman suara Syaikh Abdul Azis dari Mesir. Keindahan puisi pujian atas Nabi itu tetap begitu indah di telinga.
Orang yang tidak mengerti Bahasa Arab saja bisa tergetar oleh indahnya nada ketika kata ”Allah” di akhir bait dibaca begitu panjang oleh sang syaikh. Apalagi yang mengerti Bahasa Arab. Amboi... hati terasa dihunjam seribu sembilu.
Merasakan rindu dan imajinasi kenikmatan. Membayangkan betapa bahagianya andai berjumpa Nabi Muhammad secara langsung. Ikut berjihad bersama Baginda
Rasul di medan juang. Mendakwahkan Islam dengan kasih sayang. Oh, betapa kemecer hati ini. Pengalaman batin itu takkan terlupakan sepanjang masa.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulullah  duhai penuntun petunjuk ilahi,  duhai makhluk yang terbaik
Duhai penolong kebenaran, ya Rasulullah
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari Dialah Yang Mahamelindungi
Engkau memeroleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur
Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu dan engkau menjadi imam
Engkau diberangkatkan ke sidratul muntaha karena kemulianmu dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu
Duhai yang paling mulia akhlaknya, ya Rasulullah
Semoga shalawat selalu tercurahkan padamu, pada keluargamu dan sahabatmu.
Tarhim itu terus berkumandang hingga waktu imsak tiba. Muadzin mengucapkan dengan lantang: “Imsaaaak...
imsaaaaak...” Lantas 10 menit kemudian bedug ditabuh, kenthongan dithuthuk. Dengan empat pengeras suara di menara masjid, terdengarlah kumandang adzan yang bisa terdengar seisi kampung.
Subhanallah, betapa semarak suasana Ramadan. Setiap saat selalu mendengar doa, bacaan ayat-ayat Alquran maupun sholawatan. Masjid benar-benar menjadi pusat syiar Islam.***

Catatan Moh Ichwan
Wartawan Harsem








Sumber : Harian Semarang

Posted by ThoLe on 11.15. Filed under , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0

0 komentar for �Tarhim�

Leave comment

Recent Entries

Recent Comments

Photo Gallery