Warga Semarang punya gaya berbelanja yang benar-benar baru. Mereka melakukan aksi borong kebutuhan Lebaran jelang tengah malam. Tak percaya? Tengok saja yang terjadi di Paragon, Jumat-Sabtu (3-4/9) malam lalu. Mal baru dan termegah itu seakan berguncang oleh desakan ratusan ribu pengunjung.
UNTUK memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri 1431 H, Mal Paragon Semarang menggelar Midnight Shopping alias belanja tengah malam, selama dua hari, Jumat-Sabtu (3-4/9) lalu.
Promotion Manager Paragon Dian Widiyanti menjelaskan, hampir semua tenant, sekitar 120 tenant yang ada di mal ini memperpanjang jam layanan hingga pukul 00.00, dari biasanya yang tutup gerai pada pukul 21.00.
“Seluruh tenant memberikan sale dan diskon menarik hingga 20%-70% untuk produk-produk tertentu,” ujarnya. Bagi pembeli dengan jumlah transaksi tertinggi, juga disediakan 10 hadiah menarik setiap harinya.
Selama buka di dua hari perhelatan “ujicoba” ini, menurut Dian, setidaknya target raihan jumlah pengunjung 100 ribu per hari, atau 200-250 ribu selama dua hari pelaksanaan, terlampaui. Warga Semarang dan sekitarnya tampak begitu antusias menyambut gelaran yang mengusung nuansa lifestyle baru ini.
“Target terlampaui, berarti program ini berhasil. Ini membuat kami optimistis untuk menjadikan program ini sebagai regular event ke depannya nanti. Sehingga Kota Semarang benar-benar memiliki tempat untuk ber-midnight shopping yang bisa menjadi kebanggaan warga masyarakat,” terangnya. “Inilah bukti dukungan kami terhadap program Waktunya Semarang Setara yang dicanangkan Walikota Soemarmo HS,” jelasnya.
Program belanja tengah malam setidaknya dapat menjadi tren baru di tengah gaya hidup masyarakat, khususnya dalam hal belanja. Division Manager Hypermart Mal Paragon Sugiyono mengungkapkan, selama bulan puasa kali ini terjadi peningkatan penjualan hingga 25% dibandingkan kondisi normal. Peningkatan terjadi pada produk makanan dan pakaian.
Begitu pun dengan Matahari Paragon, yang juga menyuguhkan program menarik bagi pengunjung, yakni potongan harga hingga 70%. Tak hanya itu, Matahari memberikan hadiah bagi pembeli dengan jumlah nominal paling banyak. Asisten Manager Matahari Mal Paragon Nur Naningsih mengatakan, target kenaikan jumlah penunjung hingga 100.000-200.000 dibanding hari biasa yang hanya 50.000-60.000 selama midnight shopping, pun terpenuhi dalam dua hari gelaran.
Lonjakan pengunjung ini terjadi, tentu lantaran sepanjang Midnight Shopping digelar, pengunjung juga diseguhi dengan midnigt entertain yang menghibur. Ada Shopping Rally; Fashion Show Arabic and Ethnic Nite oleh Susana Modelling School, Ferry Bajoekoe, dan Matahari Department Store; serta aksi Upik and the Band dan games interaktif yang bergerak dari lantai ke lantai.
Tak hanya itu, pengunjung juga senantiasa diiming-imingi dengan kehadiran sejumlah brand baru, di antaranya Celebrity Fitness, Urban Icon, Everbest, Toko Gunung Agung, Hoka Hoka Bento, Century, Kopy Luwak, Bee’s, ATM BNI, ATM Danamon, ATM Permata, ATM Mega, dan masih banyak lagi. (dnr)
sumber harian semarang
Takjilan
”Ya Arhamar Rahimin, Irhamna”
“Wa afina wa’fu ‘anna wa’ala to’atika wa syukrika a’inna”
DOA yang khas dibaca untuk membangunkan orang agar sahur itu begitu merdu dilafalkan oleh muadzin masjid desa saya. Suara Pak Muslih atau Wak Salim itu, terasa menyayat kalbu. Alunannya panjang dan dengan intonasi baku. Sesuai makhraj huruf dan kaidah tajwid. Tarhim, begitu istilah untuk menyebut pembacaan doa diawali menyebut asma Allah sebagai dzat Yang Mahapengasih (ar-Rahim). Kalimat zikir Ya Arhamar Rahimin yang diulang-ulang itulah yang kemudian disebut sebagai tarhim.
Pak Muslih biasa membacakan tarhim mulai pukul 3.30. Volume loudspeaker masjid tidak terlalu keras disetel. Lirih menyejukkan telinga. Orang-orang yang rumahnya dekat masjid, biasanya langsung bangun lalu sholat Tahajud di masjid. Terutama laki-laki. Sedangkan ibu-ibu, mungkin sholat tahajud di rumah atau meraih pahala besar dengan mempersiapkan makanan sahur untuk suami maupun anakanaknya. Seringkali, bacaan tarhim itu ditambahi sholawat pujipujian kepada Nabi Muhamamd beserta keluarga dan para sahabatnya. Diselingi bacaan doa dari ayat Alquran.Biasanya, begitu tarhim mulai, anak-anak yang berkeliling dengan klothekan segera mengakhiri aktivitasnya. Setidaknya balik kanan dari rute yang telah ditempuhnya. Tarhim adalah tanda bagi mereka untuk pulang ke rumah untuk makan sahur bersama keluarga. Meski dalam perjalanan pulang, musik thong-thong klek tetap dibunyikan. Setiap lima menit, Pak Muslih yang hapal Alquran
menyelingi qiro’ah-nya dengan sapaan krama inggil. ”Sahursahur... ingkang dereng sahur, sumangga enggal sahuur. Sak menika wekdal sampun jam tiga langkung sekawan dasa.” Lalu dia bacakan hadis Rasulullah berulang-ulang dalam bahasa Arab: ”Fasahhiruu, fainna fis sahuri barokah... sahurlah, karena sahur itu membawa berkah.”
Demikian pula jika yang jadi muadzin Wak Salim. Dia senantiasa menyapa dengan lembut. “Ibu-ibu ingkang dereng wungu, sumonggo enggal wungu. Enggala sahur, wekdal subuh sampun caket.” Dia ucapkan pula dalam bahasa Arab: “Fasahhiru... faqod qorubas shobaaah...”
Jika Anda tinggal di kawasan Kauman Semarang atau sebagian masjid lain di pinggiran Semarang, Anda akan mendengar tarhim berupa lantunan sholawat ciptaan
Syaikh Mahmud Al Husairi. Tokoh sufi di masa kekhalifahan Abbasiyah. Bahkan tidak hanya menjelang imsak sholawat indah ini dikumandangkan. Yakni menjelang maghrib untuk mengingatkan agar bersiap berbuka puasa.
Tak masalah yang Anda dengar adalah bunyi dari tape recorder yang memutar kaset rekaman suara Syaikh Abdul Azis dari Mesir. Keindahan puisi pujian atas Nabi itu tetap begitu indah di telinga.
Orang yang tidak mengerti Bahasa Arab saja bisa tergetar oleh indahnya nada ketika kata ”Allah” di akhir bait dibaca begitu panjang oleh sang syaikh. Apalagi yang mengerti Bahasa Arab. Amboi... hati terasa dihunjam seribu sembilu.
Merasakan rindu dan imajinasi kenikmatan. Membayangkan betapa bahagianya andai berjumpa Nabi Muhammad secara langsung. Ikut berjihad bersama Baginda
Rasul di medan juang. Mendakwahkan Islam dengan kasih sayang. Oh, betapa kemecer hati ini. Pengalaman batin itu takkan terlupakan sepanjang masa.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulullah duhai penuntun petunjuk ilahi, duhai makhluk yang terbaik
Duhai penolong kebenaran, ya Rasulullah
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari Dialah Yang Mahamelindungi
Engkau memeroleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur
Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu dan engkau menjadi imam
Engkau diberangkatkan ke sidratul muntaha karena kemulianmu dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu
Duhai yang paling mulia akhlaknya, ya Rasulullah
Semoga shalawat selalu tercurahkan padamu, pada keluargamu dan sahabatmu.
Tarhim itu terus berkumandang hingga waktu imsak tiba. Muadzin mengucapkan dengan lantang: “Imsaaaak...
imsaaaaak...” Lantas 10 menit kemudian bedug ditabuh, kenthongan dithuthuk. Dengan empat pengeras suara di menara masjid, terdengarlah kumandang adzan yang bisa terdengar seisi kampung.
Subhanallah, betapa semarak suasana Ramadan. Setiap saat selalu mendengar doa, bacaan ayat-ayat Alquran maupun sholawatan. Masjid benar-benar menjadi pusat syiar Islam.***
 |
Catatan Moh Ichwan
Wartawan Harsem |
Sumber : Harian Semarang
UPAYA Bupati Demak Tafta Zani dalam menyerap aspirasi rakyatnya patut diacungi jempol. Melalui program Tarawih Keliling (Tarling), Bupati Zani bisa berdialog langsung bersama masyarakat setempat di berbagai lapisan.
Seperti di Desa Jatimulyo, Bonang, sebelum sholat Tarawih, Bupati bersama rombongan yang sebelumnya berbuka di rumah Kades Jatimulyo ini,mendengarkan keluhan dan harapan warga. Menurut Kades Jatimulyo Solikhin, Pamsismas di desanya sudah berjalan, dan manfaat air bersihnya juga sudah bisa dirasakan warga desa. Selain itu,betonisasi jalan desa hampir menyeluruh. Untuk tahun ini, betonisasi di Dukuh Guridkulon dari dana ADD, sedangkan betonisasi di Dukuh Kledung dari PNPM.
Normalisasi kali T-39 untuk pengairan sawah sudah terwujud, hanya saja kondisi jembatan utama penghubung jalur Bonang-Demak dengan Desa Sukodono, Krajanbogo, dan Jatimulyo nyaris ambruk.Pondasi jembatan yang dibangun saat AMD (ABRI Masuk Desa) tahun 1980 dulu, sekarang hampir tinggal sejarah. Beberapa pondasinya kropos,truk pun tak berani melewatinya. (sukma)
Bulan Ramadan telah memengaruhi masyarakat menjadi lebih santun, taat beribadah, juga peduli kepada sesama. Peduli Sahabat Community (PSC) Semarang, sebuah komunitas yang terdiri dari individu-individu dengan satu visi, yaitu berbagi dengan sesama (share with others), memunyai sederet agenda kegiatan sosial selama bulan suci ini.
Sepanjang Ramadan ini, PSC telah mengadakan sejumlah kunjungan ke beberapa panti jompo dan panti asuhan, di antaranya Panti Jompo Dinas Sosial Pucanggading, dengan menyerahkan baju dan makanan.
Setelah dari panti jompo itu, PSC melanjutkan kunjungan ke Panti Asuhan Juwariyah. Selain menyerahkan sumbangan berupa jlbab dan kaos, mereka juga melakukan buka puasa bersama.
Untuk kunjungan di kedua tempat tersebut, pukul 15.30, para anggota PSC terlebih dulu berkumpul di depan Toko Buku Toga Mas, Jalan Singosari, yang sekaligus dijadikan titik mereka untuk berangkat bersama-sama. Berikutnya, PSC mengadakan kunjungan di PA Al Munawir Boja, Kendal, 21 Agustus lalu. Di tengah acara berbuka puasa bersama, mereka juga membagikan sarung dan mukena bagi anak-anak panti. Begitulah yang mereka lakukan, terutama selama Ramadan ini. Sebab, menurut Ketua PSC Diana Aqmala, komunitas ini memang dibentuk dalam keragaman yang bekerjasama untuk kegiatan-kegiatan sosial alias nonprofit.

Selama in, PSC telah melakukan berbagai kegiatan sosial yang meliputi kunjungan ke panti asuhan, yayasan sosial, dan anak-anak jalanan. Di sela-sela kunjungan, mereka selalu menyumbangkan dana dan sarana untuk kebutuhan panti/yayasan, memberikan bantuan biaya sekolah anak-anak kurang mampu, dan sebagainya. “Ke depan, PSC akan lebih berfokus untuk meningkatkan pendidikan dan keterampilan anak-anak yang membutuhkan, serta memfasilitasi kebutuhan atas kesehatan mereka,” tutur Diana, optimistis. Sejatinya, PSC merupakan organisasi yang selalu terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi dengan sesama. Sehingga siapa pun dapat mengetahui atau mengikuti kegiatan mereka secara langsung, atau memberikan bantuan sesuai keikhlasan. Untuk itu, Diana menambahkan, pihaknya membuka diri bagi masyarakat atau siapa saja yang memiliki informasi mengenai keluarga atau anak-anak kurang mampu untuk biaya sekolah, membeli perlengkapan sekolah, buku, dan lain-lain, dapat menginformasikannya kepada mereka. “Insya Allah, kami akan tindaklanjuti
untuk kami bantu,” ujarnya. (dnr)
Sumber : Harian Semarang