Semarang, CyberNews. Banyaknya remaja yang berpacaran di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah terutama di malam hari, membuat pihak pengelola MAJT gerah. Untuk itu, dilakukan langkah tegas, dengan menggiring pasangan yang berpacaran ke kantor polisi terdekat.
Berdasarkan data yang dicatat petugas keamanan MAJT, hingga Agustus 2010, ada 40 pasangan yang tertangkap berpacaran di kawasan MAJT, dengan lokasi "favorit" di bagian barat dan selatan.
Pada tahun 2009, total ada 100 pasangan yang tertangkap basah berpacaran secara berlebihan di MAJT, seperti berpelukan dan berciuman. "Jumlah tahun ini cenderung menurun karena gencarnya operasi keamanan yang kami adakan tiap jam," ujar petugas keamanan MAJT unsur kepolisian, Moh Sardi, Jumat (3/9).
Dikatakan, kebanyakan yang tertangkap belakangan ini, merupakan pasangan baru. Pasalnya, identitas mereka belum tercatat di dokumentasi petugas keamanan MAJT.
"Selain digiring ke kantor Polsek Gayamsari, pasangan yang tertangkap disuruh menulis surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatan sama di kemudian hari sekaligus mengumpulkan fotokopi KTP sebagai arsip," katanya.
Sebelum menangkap pasangan yang berpacaran, kata dia, badan pengelola MAJT menginstruksikan kepada petugas keamanan agar memfoto pasangan tersebut sebagai bukti jika nantinya mengelak.
Ketua Badan Pengelola MAJT, Ali Mufiz, menerangkan, kebijakan tersebut ditemuh pihaknya agar menimbulkan efek jera kepada remaja agar tidak berpacaran di tempat ibadah. Pasalnya, selama ini kejadian yang sama selalu berlanjut, tanpa ada penyesalan atau rasa malu dari para remaja yang melakukannya.
"Dengan dibawa ke kantor polisi, kebanyakan remaja langsung sadar tidak mengulangi perbuatannya lagi, terutama di kompleks masjid," katanya.
Menurut pakar hukum Islam dari IAIN Walisongo, Prof Dr H Muslich Shabir, langkah yang ditempuh pihak BP MAJT sudah sangat tepat. Sebab, area masjid merupakan area suci yang harusnya diutamakan untuk kegiatan ibadah. "Kalau kegiatannya menyimpang dari nilai-nilai Islam, harus dibasmi," ujar fungsionaris MUI Kota dan Jateng itu.
Selain langkah tegas terhadap remaja yang berpacaran, pihak MAJT juga harus tegas kepada pengunjung masjid yang tidak berpakaian sopan. "Sudah saatnya masjid menjadi tempat yang mulia dan harus dijaga kemuliannya oleh semua orang," katanya.
Kebijakan tersebut, menurut Ali Mufiz, akan terus dilanjutkan. Bahkan, pihaknya akan berkordinasi dengan petugas parkir untuk membantu mengeliminasi pengunjung yang tidak berpakaian sopan dan pengunjung remaja yang terlihat mesra ketika masuk ke kawasan masjid.
(
Hadziq Jauhary /CN13 )
sumber : suaramerdeka.com
SEMARANG - Kasus raibnya dana ganti rugi lahan pengganti Perhutani untuk tol Semarang-Solo (SS) di Jatirunggo, Pringapus, Kabupaten Semarang, terus bergulir. Namun misteri ke mana hilangnya dana sebesar Rp 13,5 miliar milik 99 warga, masih belum terpecahkan.
Pertemuan warga Jatirunggo dengan pihak Bank Mandiri yang difasilitasi Komisi Informasi Provinsi (KIP) Jateng pada Kamis (2/9) kemarin, berlangsung buntu.
Pertemuan yang berlangsung di kantor KIP Jateng Jalan Trilomba Juang tersebut, sebenarnya mengagendakan penjelasan Bank Mandiri atas kasus tersebut. Namun jawaban yang diberikan Bank Mandiri terkesan berputar-putar. Hingga pertemuan yang berlangsung lama tersebut berakhir, tak ada jawaban tegas dari bank tentang ke mana larinya dana di rekening warga.
Vice President Bank Mandiri Regional VII Semarang Arnold, tak pernah memberikan jawaban pasti terkait pertanyaan warga yang menanyakan hilangnya saldo uang mereka di kantor cabang pembantu (KCP) Bank Mandiri Undip, Tembalang Semarang.
"Kami hanya menjalankan perintah dari nasabah, yaitu TPT untuk membayarkan ganti rugi kepada warga Jatirunggo pada 29 April 2010," ujarnya.
Pembayaran itu, lanjut Arnold, dilakukan dengan melakukan pengkreditan ke buku tabungan 99 warga Jatirunggo. Selain itu juga ada permintaan
overbooking (pemindahbukuan) dari warga.
Namun keterangan manajemen Bank Mandiri serta-merta dibantah puluhan warga dan perangkat Desa Jatirunggo yang hadir. Sutrisno, salah satu warga mengaku tak tahu adanya perintah overbooking. "Bank Mandiri hanya menjelaskan pembayaran ganti rugi. Kalau ada
overbooking pasti kami tolak," tegasnya.
Dalam pertemuan tersebut juga terungkap warga mengaku tidak menandatangani transaksi
overbooking dan
standing instruction yang dijadikan petugas Bank Mandiri untuk melakukan transfer uang pembayaran lahan ke rekening lain.
Ketua LSM Serikat Konstituen Indonesia (Sakti) Puji Widianto menyatakan, tandatangan itu bisa saja dipalsukan. Sebab, warga merasa tidak pernah tanda tangan dua berkas tersebut. "Warga hanya ditipu dan dipermainkan."
Puji memperlihatkan contoh satu formulir dan berkas
standing instruction atas nama Syukron. Dalam berkas itu tampak masih kosong dan hanya ada nama Syukron beserta tandatangannya. Puji mengaku mendapatkan formulir tersebut karena ternyata nama Syukron ada dua berkas. Yang satu sudah diserahkan Bank Mandiri dan yang satu masih tertinggal.
Kepala Cabang Pembantu Bank Mandiri Tembalang Undip Semarang Ani Utaminingsih menyatakan, transfer dilakukan berdasarkan dokumen
standing instruction dan formulir
overbooking. "Keabsahannya karena ada tanda tangan warga dan tanda tangan kepala desa beserta stempel (desa)," kata Ani.
Namun, pernyataan Ani dibantah oleh Kepala Dusun, Seneng, Jatirunggo, Munzaidi. "Pak Lurah tak pernah tanda tangan
overbooking. Stempel pun tidak pernah digunakan," katanya.
Ketua KIP Jateng Rahmulyo Adiwibowo lantas menanyakan ada tidaknya penjelasan
overbooking kepada warga Jatirunggo. Namun, baik Arnold maupun Ani tak menjawab secara pasti. Mereka bahkan mengalihkan dengan memberikan keterangan pihak bank sudah menjalankan sesuai prosedur perbankan. "Bank Mandiri ini tak usah
mbulet, jelaskan saja ke mana hilangnya uang warga," ujar Rahmulyo jengkel.
Korlap Sakti Sutrisno Nugroho juga mengungkapkan adanya nama Novel Al Bakrie yang mengaku sebagai
lawyer Bank Mandiri pusat dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Menurutnya, Novel menemui warga saat demo di Bank Mandiri KCP Tembalang 8 Juli lalu. Hal tersebut dilakukan karena saat itu Ani dikatakan sedang berada di Jakarta. "Dia mengaku mewakili Bu Ani. Bahkan juga masuk ke ruangan Bu Ani," katanya.
Sutrisno menambahkan, Novel juga mengintimidasi dirinya dan menuduh dia melakukan pemerasan terhadap pihak bank. "Saya diancam mau dipenjarakan. Pokoknya kesannya saya ditakut-takuti agar tidak melangkah," ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Arnold membantah Novel merupakan
lawyer dari pihak bank. Dia mengaku tidak kenal Novel dan yang bersangkutan tidak punya hubungan apapun dengan bank. "Kami punya
lawyer sendiri dari internal dan tidak pernah merasa dikendalikan orang lain," tandasnya.
Dikonfirmasi, pengacara Novel Al Bakrie mengaku menemui warga pada 8 Juli. Namun, dia menyatakan datang sebagai nasabah dan teman Ani. "Bu Ani kenal saya sebagai advokat. Saat terjadi demo di Mandiri, dia telpon saya dari Jakarta. Sebagai teman saya datang secara pribadi untuk memediasi dan melihat keadaan," jelasnya.
Dia memandang Bank Mandiri bukan lembaga yang bertanggung jawab atas masalah itu. Sebab, bank hanya sebagai lembaga perbankan yang melakukan transaksi. "Bank punya acuan teknis perbankan dan tidak terkait tanggung jawab sisa dana nasabah yang raib," imbuhnya.
Menurutnya, demo ke Bank Mandiri adalah salah alamat. Sebab kalau memang ada dana yang hilang, seharusnya masyarakat melapor ke pihak berwajib. Bukan mendemo bank terus-terusan. "Apa Mandiri yang harus mengembalikan duit dan mencari investor yang hilang? Kan tidak," katanya.
Ditanya tentang pengakuan LSM Sakti yang menyatakan dirinya mengaku sebagai anggota Wantimpres, dia juga membantah. "Buat apa saya
ngaku seperti itu,
kan nggak nyambung," tegas pria yang menjabat GM PSIS itu.
(ric/isk)
sumber : radar semarang

“Skenario Illahi memang tidak dapat diduga. Tampaknya Tuhan memang menghendaki saya akhirnya berbahagia di tanah Jawa,” aku Romo Zoetmulder pada R Fajri dari Tempo, 8 tahun sebelum kematiannya.
Pengakuan di atas, sesungguhnya lebih mencitrakan betapa rendah hati sosok pemerhati budaya Jawa ini. Padahal, kehadirannya di tanah Jawa lebih membahagiakan penduduk negeri ini. Dialah tokoh yang sepanjang hidupnya suntuk mempelajari bahasa Jawa, dan selama lebih dari 30 tahun berkonsenterasi penuh demi melahirkan kamus lengkap berbahasa Jawa Kuno.
Pengabdian yang luar biasa, yang hanya muncul dari rasa kecintaan semata.
Dan cinta itu, ternyata datang dari sebuah pertemuan yang biasa.
Saat sampai di Jawa tahun 1925, ia masuk novisiat Yogyakarta. Itulah kala pertama ia belajar bahasa Jawa dari teman seangkatannya seperti Martewordoyo dan Pusposuwarto. Selepas kuliah, menjelang sore, biasanya ia akan mengajar ke desa-desa, berkendara sepeda. Wilayah pengajaranya adalah desa Sleman.
“Saya mengajarkan agama sambil duduk di tikar, dikitari para penduduk. Dalam pertemuan semacam inilah saya manfaatkan untuk belajar bahasa Jawa, dan menikmati tembang-tembang Jawa,” kenangnya.
Dari kebiasaan itulah, pelan tapi pasti, rasa cintanya pada bahasa Jawa tumbuh.
Selalu berbahagia di Jawa
Petrus Josephus Zoetmulder lahir di Utrecht Belanda, 29 Januari 1906. Tapi, dalam beberapa kesempatan, ia juga acap memakai nama Artati, padanan kata zoet yang berarti manis, atau Resi Ciptoning, nama yang ia pakai saat menyelesaikan studi Teologi di Maastricht.
Ayahnya adalah insinyur di Delft, dan ibunya adalah pemain piano profesional, yang menurunkan bakat musik padanya. Tapi, berbeda dari ibunya, Zoet malah lebih menyukai memainkan biola. Sejak kecil, Zoet telah bercita-cita menjadi imam. Tak aneh. Keluarganya tercatat sebagai katolikus yang taat. Dua pamannya adalah pastor, sedang bude dan bibinya menjadi suster di Afrika dan Suriname. Kelak, anak sulung Zoet pun menjadi pastor.
Karena telah terbiasa membaca, saat masuk SD Lagere School 1912, dia tampil menonjol, terutama dalam ilmu bahasa, sejarah dan agama. Ketika melanjutkan ke Gymnasium Kanisius College, cita-citanya untuk menjadi imam kian menguat. Zoet kemudian masuk ke Novisiat Serikat Yesus, pendidikan awal untuk Imam Jesuit, di bawah bimbingan Pater P Willekens. Pembimbingnya itu jugalah yang kemudian menugasi ia bermisi ke Jawa, 1925.
1928, Willekens menyusul ke Jawa, dan meminta Zoet untuk belajar studi Kebudayaan jawa pada Dr CC Berg, yang saat itu menetap di Solo.
“Ternyata tugas ke Jawa, adalah skenario dia untuk membuat saya mempelajari budaya Jawa. Itu yang ikut mengubah takdir saya,” ingatnya.
1931, Zoet lulus dengan predikat
cumlaude, dan bersamaan dengan itu ditahbiskan sebagai calon pastor di Girisanta, Ungaran, Semarang.
7 Desember 1933, ia pun lulus sarjana Sejarah Jawa dan Purbakala dari Universitas Leiden. Gelar yang amat menonjol karena diberikan oleh CC Berg dan Snouck Hourgronje, ahli Jawa dan Islam yang tak terbantahkan reputasinya.
Tak puas dengan gelar itu, Zoet melanjutkan studi doktor. Dan 30 Oktober 1935, ia meraih gelar doktor
cumlaude dengan disertasi “Pantheisme en Monisme in de Javaansche Soeloek-Litteratuur”, yang 50 tahun kemudian diterbitkan Gramedia dalam versi terjemahan,
Manunggaling Kawula Gusti: Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa.
Tapi, selalu lulus cumlaude tak menjamin Zoet untuk lulus ujian mengambil SIM, sekitar tahun 1953. “Hal itu sampai ditulis wartawan
Kedaulatan Rakyat, ada profesor yang tak lulus ujian
rijbewijs, mengambil SIM, hahhaa....”
Saat Jepang masuk Indonesia 1942, Zoet termasuk warga Belanda yang ditahan. Tapi, dia beruntung, selama ditahan, buku dan pena masih boleh ia bawa. Saat dipindahkan ke penjara Cimahi, ia terpaksa menyeludupkan serat
Adiparwa suntingan Dr HH Joynboll. Zoet berusaha menerjemahkn buku itu, dan tahun 1950, atas bantuan Poedjawiatna, buku setebal 267 halaman itu terbit dengan judul
Bahasa Parwa, yang kelak menjadi acuan dasar mahasiswa studi Jawa Kuno.
1945, ia lolos dari tahanan interniran Baros, dan mulai mengajar di UGM. Dan 1950, berdasarkan SK Mendikbud, ia diangkat menjadi Guru Besar Luar Biasa pada Fakultas Sastra Pedagogik, Filsafat UGM.
1955, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Sastra UGM, dan menanggalkan kewarganegaraan Belanda. Sehari-hari tugasnya menjadi lebih berat karena harus mewakili Dekan Fakultas Sastra Prof Dr RM Ng. Poerbatjaraka, yang lebih banyak berada di Jakarta. Ini masih ditambah tugas lain, menjadi guru bahasa Jawa Kuno untuk wilayah Yogya.
Pertama memberi kuliah, Zoet memakai bahasa Jawa. Tapi. kemudian dia menyadari, mahasiswanya banyak yang berada dari luar Jawa. Ia pun kemudian menulis buku panduan,
Sekar Sumawur, bunga rampai prosa dalam Jawa Kuno.
“Saya keras pada mahasiswa. Jika mereka mempelajari Sekar Sumawur secara serius, saya jamin lulus. Tapi, itu bukan berarti karena mereka membeli buku saya,” katanya, dalam
Basis, Maret 1980.
Semasa menjadi dosen itu, ada kenangan yang sampai menjelang ajalnya sulit ia lupakan, perdebatannya dengan mahasiswa yang berasal dari luar Jawa, yang merasa tak mampu dan menolak belajar bahasa Jawa Kuno.
“Saya bilang, saya sendiri dari Belanda, dan saya mampu. Yang terpenting kemauan dan niat. Apa pun bisa dipelajari, tak ada yang sulit.”
Ucapan Zoet ini kemudian menjadi terkenal, dan membuatnya menjadi dosen yang amat disegani.
lalu, untuk membantu kesulitan itu, Zoet bermaksud membuat kamus bahasa Jawa Kuno. Dan sejak tahun 1950 ia kerjakan. Semula ia yakin, 10 tahun adalah waktu yang ia butuhkan, tapi kenyataan bicara lain. Tugas itu berat sekali.
“Ternyata saya butuh 30 tahun untuk menyelesaikan kamus itu. Pekerjaan yang luar biasa berat,” akunya.
Kamus itu kemudian terbit,
Kamus Bahasa Jawa Kuno, diikuti buku
Kalangwan yang mengupas kehidupan empu dan sastra Jawa Kuno. Tentang kesulitannya, Zoet mengaku karena ia harus mengumpulkan naskah dari mikrofilm dan naskah handsbooks dari Universitas Leiden.
Di masa tuanya, ada satu hal yang acap ditanyakan orang pada Romo Zoet, yaitu apakah ia menyesal menanggalkan kewarganegawaannya? Sambil tersenyum, ia akan menjawab: “Bagi saya, sebenarnya menjadi warga negara Belanda atau Indonesia sama saja. Saya juga tak pernah merasa rindu dengan negeri Belanda… Bahkan kalau Tuhan mencabut nyawa saya, saya ingin itu terjadi di Jawa.”
Pengharapan yang kemudian memang diberikan Tuhan, yang mungkin sebagai rahmat bagi Zoet, yang selalu merasa bahagia di tanah Jawa.
(Aulia A Muhammad)
sumber : cyber.suaramerdeka.com
H. Sungkono
 |
| H. Sungkono (kanan) menemui para pengudap di warung sotonya.(SM/CyberNews/Yuska) |
BAGI para penggila nasi soto, dari sekian banyak varian soto yang ada di nusantarata ini, pasti akan memasukkan nama Soto Galeh ke deret variasi soto yang ada. Dan ia akan menjadi menu andalan terutama bagi para penyuka masakan berkuah.
Soto Galeh, memang seperti umumnya soto yang selama ini ada. Berkuah santan, dengan varisai sedikit bihun, irisan daging sapi atau ayam, tauge dan sejumput daun seledri serta nasi secukupnya.
Soal rasa khas soto Galeh ini sejak tahun 1965 sampai sekarang masih tetap dipertahankan oleh H. Sungkono, penerus generasi dari dinasti soto Galeh. Pada tahun 60-an itulah Mbah Joyo, kakek Sungkono membangun "kerajaan" soto di pinggiran Sungai Galeh di Parakan, Temanggung. Sebuah kawasan berhawa dingin yang terasa pas dengan masakan soto yang disajikan panas-panas. "Tapi kakek saya dulu sebelum membuka warung di dekat jembatan Galeh, beliau jualan berkeliling dengan angkring," kata Sungkono yang tekah membuka cabang di Secang dan Bergas, Kab. Semarang.
Menurut lelaki yang beristri Suparmi ini, nama "galeh" sendiri pemberian dari para pelanggan Mbah Joyo yang dengan sukarela memberi nama sesuai dengan tempat berjualan. "Jadi saya sangat berterimakasih, atas penghargaan masyarakat pada kami," kata H. Sungkono.
Setelah Mbah Joyo meninggal, usaha soto ini diteruskan Ahmad Amri, ayah Sungkono.
Jika dari semua varian soto itu terasa ada yang istimewa, tentu karena masing-masing soto disesuaikan dengan asal masakan itu buat. Misal soto Lamongan akan berbeda dengan soto Madura, soto Kudus, soto Sokaraja, atau soto Semarang.
Ayam kampung
Soto Galeh juga memiliki spesifikasi dalam rasa misalnya sedikit beraroma opor. Daging ayam yang dipakai pun bukan ayam boiler, tapi ayam kampung yang segar, sehingga soto akan terasa kesat. Soal ayam pilihan ini juga, tak bisa diganggu gugat, karena sejak zaman Mbah Joyo dulu yang dipakai adalah ayam kampung, terasa akan berdosa jika Sungkono berani mengubah tradisi.
Ketenaran Soto Galeh tak cuma di sekitar kota Temanggung saja, tapi sampai kota-kota di Jawa Tengah. Para pelanggan pun dari masyarakat biasa sampai pejabat negara. Dari Harmoko (mantan Menteri Penerangan), Gubernur Jateng Ismail (alm) atau mantan Mendagri Supardjo Roestam (alm) pernah menjadi pelanggan setia. Bahkan di warungnya yang ada di Bergas, Kab Semarang, tempatnya sering dijadikan ajang pertemuan tim sukses beberapa calon bupati dan walikota.
Pak Kono, demikian ia sering dipanggil ternyata tidak saja sukses di dunia kuliner, tapi juga aktif di dunia pendidikan. "Tapi saya lebih suka dipanggil sebagai
bakul sega saja, ketimbang pengusaha," kata lelaki yang menjadi ayah asuh bagi anak-anak yatim piatu ini. Bukti suksesnya sebagai pengusaha, Kono ikut mendirikan sebuah rumah sakit, yakni RS Muhammadiyah di Parakan.
Ikhwal kebiasaan beramal itu, setiap Jumat Kono punya kebiasaan menyalurkan infaq ke banyak panti asuhan. "Karena dengan berinfaq secara iklas, insyaallah kita tak akan pernah berhenti menikmati rejekiNya," kata mantan penjaga perpustakaan Mukti Ali (mantan menteri Agama, red) semasa mahasiswa dulu itu.
ya, membersihkan buku-buku di rak perpustakaan dengan kemoceng itu pun dilakoni Kono dengan iklas.
(Bambang Isti/CN13)
sumber : Cyber.suaramerdeka.com
Para Pejuang Lingkungan Hidup
Oleh Bambang Isti
 |
| Endar Progresto S.sn, Koordinator reboisasi. |
KELUAR masuk menjelajah hutan, adalah pekerjaan Endar Progresto, S.sn, salah seorang penerima penghargaan Gubernur Jateng Bibit Waluyo pekan lalu di Banyu Biru Kab Semarang dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup.
Endar Progresto menerima penghargaan sebagai Pembina Lingkungan Hidup, salah satu dari beberapa penerima yang lain.
Endar kesehariannya memilih bekerja di Glagahombo, kab Boyolali, di mana di sana berada hutan Wonopotro serta aneka potensi alam yang diharapkan menjadi "paru-paru"nya Jawa Tengah. Itu semua dilakukannya selepas dia belajar di perguruan tinggi. Pikir dia, bahwa mengurusi hutan dan segalanya satwa liarnya bukan saja tanggungjawab para sarjana geografi saja, bahkan sarjana seni seperti Endar pun bisa. "Ini sebagai wujud tanggungjawab saya sebagai warga Glagahombo ketika melihat kondisi menurunnya ekosistem yang ada di kawasan Glagahombo," kata Endar juga menerima hadiah uang Rp 4,5 juta.
Menurut Endar, kawasan Padukuhan Glagahombo yang terketak di sebelah selatan Waduk Bade Kec. Klego ini amat potensial sebagai habitat aneka satwa. Sedangkan Waduk Bade sendiri cukup memberi penghidupan masyarakat sekitar, karena potensi perikanan air tawarnya. Terkait dengan habiutat satwa di Wonopotro, sehingga di kawasan itu berlaku larangan keras untuk berburu satwa. Itu sebabnya aneka satwa liar di sana amat dijaga oleh warga, "Ya, ini sebagai gerakan moral untuk melestarikan alam, sehingga warga di sini bisa bekerja dengan sukarela demi terjaminnya potensi alam di masa depan untuk umat manusia," kata Endar.
Eksotik.
Kawasan hutan Wonopotro amat eksotik bila dinikmati dari perairan Waduk Bade. Di bukit Wonopotro itu adalah habitat aneka burung liar yang harus dijaga kelestariannya, kalau tidak mjau punah diburu manusia. Seperti Burung Kuntul, Blekok, Pleci, Puter Geni, Prenjak Pipit, Sri Gunting, Cucakrawa, Daradasih, Derkuku, Kutilang, Condet, Johan Klitik, burung Engkuk, atau Gemak. Satwa lain seperti kijang Jawa, ular Phyton, Garangan, Musang atau ayam hutan.
Untuk upaya penyelamatan hutan (reboisasi)dan untuk menjaga ekosistem alam tetap terjaga,
pemuda Endar Progresto tampil sebagai koordinator dan penggerak gerakan reboisasi Glagahombo, dia memang tidak bekerja sendiri. "Untuk reboisasi, sejak tahun 2009 saya banyak dibantu oleh adik-adik pelajar SMP dan SMA, misalnya untuk gerakan menanamkan pohon, " kata Endar Progresto.
Itu sebabnya, sejak memilih bidang pekerjaan sebagai koordinator reboisasi, Endar mendirikan wadah IMTAG (Ikatan Muda Mudi Tanah Glagahombo) yang beranggotakan anak-anak muda karang taruna dan pelajar dan warga Desa Blumbang Kec. Klego, Boyolali. Mereka bekerja untuk kelestarian alam di kawasannya. Tentu saja Endar selalu berkoordinasi dengan pihak pemerintah (Perhutani) dan BLH (Badan Lingkungan Hidup).
Bahkan dari kedua instirusi itulah, mengantar Endar menerima penghargaan dari Gubernur Jateng.
(habis)
Pembela Mangrove dari Ujung Alang
WAHYONO penerima penghargaan "Perintis Lingkungan Hidup" Jawa Tengah (Foto CyberNews Wisanggeni)
Oleh Bambang Iss
BAGI kebanyakan orang, mungkin cukup sudah hanya menjadi kepala dusun (kadus) dengan gaji Rp 400 ribu perbulan, apalagi di desa.
Namun tidak bagi seorang Wahyono. Pengabdiannya sebagai kepala Dusun Ujung Alang yang dijabatnya sejak tahun 2003 sampai sekarang tak lantas membuatnya ingin dihormati sebagai pejabat desa, "Ada pekerjaan lain yang sangat penting dan harus saya lakukan yaitu menjaga kelestarian tanaman mangrove," kata Wahyono.
Berawal dari keprihatinan dia atas makin susutnya lahan tanaman mangrove di Desa Ujung Alang, Kec, Kampunglaut, Kab Cilacap tempat dia tinggal, maka terjunlah Wahyono ke pantai. Dia sendiri berjuang, karena di benaknya siudah terpatri, jika mangrove hilang, abrasi pantai akan makin menggila, kampungnya akan banjir, bahkan tak akan ada lagi budidaya ikan. Jadi takj ada sumber mata pencaharian lagi dari laut.
Hilangnya belantara mangrove di perairan Segara Anakan Cilacap itu, karena terjadinya sedimentasi sehingga tanah pantai terus meninggi. Lebih dari itu, adanya perusakan mangrove berupa penebangan liar oleh sebagian penduduk, membuat hati Wahyono menjerit. Sehingga tumbuhan mangrove yang sejak tahun 80-an seluas 4000 Ha, kini tinggal tersisakan 600 Ha saja.
Kegunaan mangrove disamping sebagai penahan erosi adalah menyediakan berbagai hasil hutan seperti kayu, hal inilah yang membuat orang mengincarnya dan memburunya. Maka terus saja hutan mangrove dibabat habis. Padahal dengan kelestarian mangrove, penduduk bisa membudidayakan apa saja, dari budidaya ikan, udang, atau kepiting, "Dan daun-daunnya saja sudah mengandung makanan bagi ikan-ikan di sekitarnya," kata Wahyono.
Ikan-ikan itu seperti jenis belanak, badeng atau mujahir. Hanya saja, menurut lelaki yang beristrikan Monika Tumirah ini, betapa sulitnya berbudidaya udang di tempat itu karena selalu diserang penyakit udang.
Berbuah berkah.
Membela kelestarian mangrove yang dilakoninya sejak tahun 2003 sampai sekarang memang berbuah berkah. Setidaknya Wahyono yang berhasil menggerakkan warga desanya untuk ikut melestarikan mangrove, sehingga sudah berhasl menyelamatkan sekitar 50 ha lahan mangrove.
Ancaman penembangan liar diakui Wahyono memang masih ada, "Tapi tidak sebesar dulu, karena rupanya kesadaran warga akan manfaat mangrove ini sudah tumbuh," kata Wahyono yang pernah menerima penghargaan "Perintis Lingkungan Hidup" dan uang Rp 4,5 juta dari Gubernur Jateng Bibit Waluyo Mei 2010.
Bagaimana menyadarkan warga akan pentingnya mangrove?
Wahyono mengaku punya kiat tersendiri. Pertemuan antarwarga dilakukannya tiap
selapan (menurut penghitungan tradisi Jawa 36 hari. Di situ dia bisa intens mengadakan penyuluhan akan pentingnya pelestarian mangrove.
Puncanya, warga pun makin sadar ketika usaha wahyono selama ini diapresiasi oleh pemerintah dengan berbagai penghargaan dan bantuan uang maupun bibit mangrove sepreti dari Pertamina atau dari KPSDSA (Kantor Pengelolaan Sumber Daya Segara Anakan) yang selalu memberi saran, motivasi dan pengetahuan-pengetahuan tentang tanaman mangrove..
Maka "Sampai sekarang pun saya dan teman-teman pelestari lingkungan, mencari bibit sendiri, yaitu mengambil dari tanaman yang sudah tua yang pernah kami tanaman beberapa tahun lalu," kata lelaki kelahiran tahun 1965 ini.
Wahyono dengan paguyuban pelestari lingkungan Wana Krida Lestari memakai beberapa pola tanam, seperti sistem tanam biji dan pola tanam cancang. Bermula dari biji mangrove yang diproses secara polibag, yakni memasukkan bibit ke tanah yang berbungkus plastik selama 4 bulan. Ketika sudah mencapai usia 4 bulan inilah, bibit dipindah ke lokasi tanam di perairan.
Proses selanjutnya adalah membiarkan mangrove muda hidup dengan habitat laut, misalnya harus bersahabat dengan pasang surutnya air laut. Karena air pasang dan surut itulah yang justru dibutuhkan oleh pengembangan mangrove. "Jadi kalau nelayan lain menganggap air pasang surut itu sebagai bencana, bagi kami itu sebagai berkah," kata Wahyono. "Saya selalu bilang pada teman-teman bahwa air pasang itu bukan bencena,"
Mangrove pun lalu dibiarkan tumbuh di sepanjang parairan selama 6 atau 7 tahun, yang kemudian bibitnya bisa digunakan lagi sebagai mangrove generasi berikutnya.
Patah tumbuh hilang berganti, seperti kata pepatah, itulah dunia mengrove. Karena jika sudah bisa
diunduh (dituai) kayunya amat berguna bagi bahan pembuat rumah. Hampir semua warga di Kampung Laut Cilacap, seperti kata Wahyono, kayu rumah mereka berbahan mangrove, terutama untuk jenis tancang (bruguiera) dan jenis bakau (rhizopora) yang amat kuat dan kokoh.
Lantas sampai kapan Wahyono akan membela mangrove? "Saya tidak bisa menjelaskan, karena bagi saya pekerjaan jika dilakukan dengan sukarela, justru akan membuat makin semangat..," kata Wahyono yang membuat perairan Segara Anakan Cilacap ini makin menghijau dengan belantara mangrove.
Selama ini Wahyono tak pernah mengkalkulasi berapa uang yang didapat dari mangrove, atau berapa biaya yang keluar untuk mangrove. Karena rupanya dia tak pernah mau hitung-hitungan dengan mangrove, karena Wahyono memang hanya melakukannya dengan sukarela. dan itu yang membuat lelaki ini tetap sehat dan banyak memiliki teman.
(BI/Bambang Iss)
sumber : cyber.suaramerdeka.com